Menu
Masuk
Mekarnya Mahkota Anggrek Larat
Angelica Eleyda Hitjahubessy
26
Dilihat
1
Suka
0
Komentar

Midah bergegas menuju gubuknya sambil membawa keranjang yang berisikan beberapa tangkai tanaman anggrek larat yang masih menguncup. Ia tak boleh melewatkan lagi kesempatan emas ini. Meskipun sedang terburu-buru, setiap orang yang berpapasan dengannya pasti disapanya dengan seulas senyum manis yang menjadi ciri khas gadis itu. Tak pernah ada siapapun di desa itu yang mampu menandingi manis senyum Midah yang bahkan dapat memecahkan kerasnya batu. 

“Mika!” Suara melengking halus dari pita suara gadis termanis di desa terdengar hingga sudut-sudut gubuk yang sempit, bahkan terdengar hingga gubuk sebelah. Ya, ia merasa seharusnya begitu, namun tak ada satupun yang menyahutnya. “Mika??” Masih tak ada juga jawaban. Ia menoleh ketika mendengar langkah kaki dari gubuk sebelah. 

“Midah sedang mencari bongso-mu kah?” Midah mengangguk dengan semangat. 

“Iya. Ua lihat kah?”

Tetangga yang sudah berkepala empat itu menghela napas, menggeleng pelan lalu menjawab, “Tapi Ua sempat lihat bongso-mu pergi main dengan ana-ana lain.”

“Oh, baiklah kalau begitu. Saya titip Mika kalau dia selesai main, ya, Ua.” Tetangga tersebut menjawab dengan anggukan lirih, wajahnya terlihat sangat lelah namun dihiraukan Midah. Ia tersenyum simpul kemudian bergegas meninggalkan tetangganya, menuju Rumah Bapa Desa. Sambil terburu-buru Midah mengomel dalam benaknya. Ia merasa tetangganya tadi menggeleng saat ditanya keberadaan adiknya, tetapi juga mengatakan ‘sempat lihat’. Berbicara dalam hati dengan wajah tersenyum, seni yang sangat indah.

Sesampainya di lokasi tujuannya, Midah segera mengetuk pintu dua kali sembari masuk rumah. Ia yakin Bapa Desa tahu siapa yang mengetuk pintu. Dirinya juga berjanji untuk tidak mengulangi lagi perilaku tersebut karena ia sadar bahwa itu tidak sopan. Midah cengengesan menyadari tindakannya yang salah tetapi tetap dilakukan. Baru saja hendak memanggil Bong Amo, pria yang memintanya untuk bergegas, sosoknya muncul di balik pintu sambil tersenyum ke arah Midah. “Ayo, Midah! Kita harus cepat-cepat mendaftar! Kau benar-benar bawa anggreknya kah?” Midah mengangguk lagi penuh antusias, mengangkat tangannya yang membawa keranjang. Jemari Bong Amo membentuk jempol. Ia terkekeh, menyadari dirinya yang sudah mengikuti logat ‘kah’ yang menjadi ciri khas masyarakat di desa itu. 

* * *

Midah mengikuti langkah Bong Amo. Beberapa tahun yang lalu, ia mendengar kabar yang sangat menantang. Kata Bong Amo, setiap tiga tahun akan ada rombongan dari Jakarta yang datang dan melakukan rangkaian tes pada siswa SD, SMP, dan SMA. Anak-anak yang lulus akan diberangkatkan ke Jakarta untuk bersekolah di sana. Pada tes sebelumnya, Midah tak tahu-menahu apapun mengenai hal itu. Baru setelah tes selesai dilaksanakan dan anak-anak sudah diberangkatkan, datanglah Bong Amo yang merupakan satu diantara panitia tes itu. Midah juga tak paham mengapa saat ia tengah merangkai anggrek larat saat senja menyingsing di horizon Kepulauan Aru, datang sosok pria yang tanpa basa-basi segera berkata, ”417 dikali tiga ditambah 457?”, dan dijawab oleh Midah setelah berpikir sejenak. Layaknya penduduk desa yang polos ia menjawab, “Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus.” Pria tersebut menggeleng takjub sambil tersenyum. “Sudah kuduga kau memang berpotensi.” Begitu respon pria asing yang memperkenalkan dirinya sebagai Bong Amo saat mendengar jawaban gadis di depannya. Semenjak itu, Bong Amo tinggal di rumah Bapa Desa, lalu mengangkat Midah menjadi muridnya, mendidiknya untuk bersiap-siap menghadapi tes yang diberi rombongan Jawa tiga tahun depan.

Kini tiga tahun itu telah berlalu. Tes sudah ada di depan mata. Bahkan ia sedang berhadapan langsung dengan ‘rombongan dari Jakarta’ itu bersama anak anak lain yang juga mengikuti tes. Ternyata hanya ada tiga wanita dewasa. Midah pikir akan ada banyak orang, banyak pria, seperti Bong Amo dalam jumlah yang banyak. Ia menitipkan keranjang anggreknya yang menguncup pada Bong Amo.

“Bong Amo dari Jakarta juga kan?”

“Hush, fokus Midah. Sekarang saatnya kamu menuai semua kerja kerasmu tiga tahun ini. Kamu layak mendapat pendidikan yang lebih baik di Jawa nanti. Ingat, Midah, ora et labora!” 

Midah mengangguk pelan. Bong Amo yang selama tiga tahun lebih dekat dengan Midah sudah mengetahui tabiatnya yang mudah gugup dan perhatiannya yang mudah teralihkan ketika kemampuannya diuji. Namun Bong Amo juga tahu bahwa muridnya yang mulai beranjak remaja itu bisa membereskan soal di hadapannya. Pria itu menyemangati Midah sekali lagi sebelum seluruh peserta dipersilakan masuk ruang ujian dan tes segera dilaksanakan setelah beberapa instruksi. Jauh di lubuk hatinya masih ada satu hal yang mengganjal, membuatnya gelisah tak keruan. Tidak, tidaklah ia mengkhawatirkan sesulit apa soal yang dikerjakan Midah. Biar, biarlah seluruh pembaca bertanya-tanya mengapa Bong Amo merasakan kegelisahan ini, agar mereka gelisah bersama.

* * *

Di teras rumah Bapa Desa, Midah melompat kegirangan. Mika, sang bongso yang masih berusia lima tahun menatap keheranan pada kakaknya. “Midah, jangan kesenangan dulu, masih ada tes lagi setelah ini. Ada wawancara besok lusa,” Bong Amo kembali mengingatkan Midah.

Baru saja Bong Amo mendapat kabar bahwa hasil tes yang diikuti Midah beberapa hari yang lalu sudah diumumkan. Tentu saja ia yakin Midah akan lolos. “Wawa cara? Itu apa kah kaka?” Mika yang mendengar ucapan Bong Amo kebingungan dengan kosakata yang terdengar asing baginya. Midah terkekeh mendengar ucapan spontan adik kesayangannya. “Wawancara, Mika. Itu nanti kayak katong bicara-bicara kayak begini saja.” Ia berusaha menjelaskan sesederhana mungkin karena tak ingin Mika semakin bingung. Bong Amo hanya menyaksikan tingkah dua saudara di hadapannya. Semua orang tau, sejak dulu Midah sendirian mengurus Mika yang masih berusia kurang dari lima bulan semenjak kepergian orang tuanya. Sibuk kesana kemari meminta ua-ua di desa agar memberi ASI pada adik kecilnya. Tak ingin berlarut, Bong Amo segera menyuruh Midah pulang dan persiapkan diri untuk tes wawancara. Kalau soal ini, Bong Amo tidak dapat memastikan soal seperti apa yang akan keluar, tetapi ia meminta Midah mempertanyakan kembali pada diri sendiri: Apakah Midah benar-benar ingin memperjuangkan pendidikan ke Jawa? Jika ya, mengapa?

Segera setelah Midah pulang sambil menggandeng tangan mungil Mika, Bong Amo kembali dilanda kegelisahan.

* * *

“Tanesya Irapanusa!” Midah mengangkat kepalanya. Bong Amo melirik, “Sampai sekarang Bong masih bingung nama ‘Midah’ diambil dari mananya.” Midah tersenyum, menatap Mika yang kali ini menemaninya untuk tes wawancara. Ia menguatkan dirinya untuk menghadapi serbuan pertanyaan nanti. Ia berjuang sejauh ini bukan hanya untuk mengejar kesempatan bersekolah di Jawa dan mendapat pendidikan yang baik, tetapi juga demi adiknya.

“Midah, ini adalah tahap akhir. Satu langkah menuju masa depanmu yang bergantung pada ujung bibir. Berikan jawabanmu yang tulus dan jujur. Tak ada gunanya mengada-ada, melebih-lebihkan, apalagi membohong-bohongi yang hanya membawa hancur.” Midah mengangguk patuh sebagai respon. Masih sama, ia menitipkan keranjang berisikan anggrek larat yang menguncup pada Bong Amo. Kelopaknya sudah setengah terbuka.

Gadis itu memasuki ruang tes dan disambut sosok wanita dengan senyum hangat. 30 menit berlangsung dengan cepat tanpa disadari Midah. Sesuai pesan Bong Amo, ia menjawab sejujurnya tanpa mengada-ada. Midah hendak berpamitan keluar, tetapi mengurungkan niatnya saat melihat wanita tersebut hendak berbicara. “Midah, sesi wawancara sudah berakhir, tapi ibu hendak bertanya satu hal lagi padamu. Katamu, kau punya adik berusia lima tahun, dan juga sedang menunggumu di luar bersama Bong Amo. Jika kamu lolos seleksi ini dan mendapat beasiswa untuk bersekolah di Jawa, apa kamu siap meninggalkan adikmu?” Wanita itu menekankan kata terakhir yang diucapkannya. Midah diam terpaku. Pandangannya mengabur saat menyadari ada hal yang tak diketahuinya selama ini. Peserta yang lolos dan bersekolah ke Tanah Jawa ternyata tidak mengikutsertakan keluarga untuk tinggal disana. Saat ini, giliran Midah yang dilanda kegelisahan. Ia mendengar Mika memanggil-manggil namanya dari luar ruangan.

* * *

Beberapa menit yang lalu seluruh yang berada di ruang boarding pass telah memasuki pesawat. Bong Amo memasuki pesawat dengan langkah berat. Di kursi yang sebelahnya kosong, Bong Amo duduk termenung. Hasil seleksi jelas sudah diumumkan seminggu yang lalu. Seluruh peserta yang lolos pun telah mempersiapkan diri dan hari ini mereka menumpangi pesawat dari Dobo menuju Ambon, untuk menuju Jakarta. Bong Amo menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Dirinya bimbang memikirkan adakah sia-sia perjuangannya selama tiga tahun mengajar Midah untuk kemudian dirinya tak bersekolah di Jawa padahal lolos seleksi. Suara pilot mengindikasikan pesawat akan segera take-off.

* * *

Kaki tak berkasut itu melangkah melintasi tanah yang mulai ditumbuhi rerumputan dan berhenti di salah satu diantara banyaknya gundukan tanah. Gadis itu mengambil seluruh tangkai anggrek larat dari keranjangnya dan diletakkan di depan nisan bertuliskan ‘Mikailo Irapanusa, lahir 19 April 2017, wafat 19 September 2017’. Tatapannya datar, tak ada senyuman yang biasa ia berikan pada masyarakat di desa. Hanya langit yang ditatapnya, menunggu adanya pesawat yang melintas. Pesawat yang seharusnya ditumpanginya menuju Jakarta untuk bersekolah nanti.

Senyuman terbit di wajahnya setelah pesawat yang ditunggu-tunggu, mempercepat laju denyut. Di pantulan matanya, arah pesawat tersebut tiba-tiba tak terkendali, meluncur bebas di kejauhan pada gulungan biru laut. Meledak setelah beberapa detik tumbang secara vertikal, membuat gadis itu terpana. Sinar mentari yang semakin menyeruak, mahkota anggrek larat telah mekar sempurna.

Tangerang, 3 November 2022

Rekomendasi
Lihat lagi