Menu
Masuk
Sang Penembus Dua Sisi
Janeeta Mz
28
Dilihat
0
Suka
0
Komentar

Sepandai apa pun setan merayu lewat bisikan halus atau pun kasar. Perangilah! Jangan kau turuti!

***

Siput terlihat santai dengan duduknya di ranting pohon menarik perhatian Agam. Agam mengarahkan kamera DSLR ke hewan menggemaskan itu. Hasil jepretan laki-laki muda itu bukan kaleng-kaleng. Memandangi hasil jepretan dengan tersenyum dilakukan Agam. Senyumannya mendadak hilang ketika ia mendengar celotehan Ibu-ibu tetangga yang lewat jalan gang samping rumahnya. Ia lebih memilih memasang telinga.

“Si Agam yang katanya lulusan sarjana jebule pengangguran.”

“Iya juga ya, Bu. Wis ngetek-entekne duwit.

“Gak kasihan sama orang tuanya apa ya? Kok tiap hari di rumah.”

“Terus kalau kata adiknya suka piknik-piknik. Kalau gak minta orang tua, dapat uang dari mana.”

Begitulah kuping Agam mendengar. Celotehan Ibu-ibu yang hendak arisan itu membuat Agam tersenyum. Mungkin mereka mengira, orang yang menjadi bahan pembicaraan sedang tidak berada di balik pagar.

Tidak peduli omongan tetangga, Agam pun bergegas memasuki rumah. Ia memindahkan hasil jepretan dari kamera DSLR ke laptop. Hasil jepretan ia poles seindah-indahnya. Polesan dirasa cukup dan layak dinikmati, ia pun bergegas mengupload ke platform pengunggah foto bergaji dolar. Pekerjaan yang ia tekuni sejak awal masuk kuliah sampai lulus kuliah, orang mengira Agam nganggur 2 tahun setelah wisuda. Padahal cuan selalu mengalir.

***

“Kamu itu lho, Bu! Kok mau-maunya diplorotin anak.” 

“Maksud Bu Warti apa ya?” tanya Ibu Agam sambil menghentikan jalannya.

“Anakmu si Agam. Wong lanang kok udah lulus dua tahun nganggur.”

“Anak saya gak nganggur, Bu.”

“Nggak nganggur kalau habisin duwit orang tua namanya apa?”

Percakapan panas Bu Warti dan Ibu Agam didengar oleh Bu Indah. Tidak mau ada percekcokan habis pulang pengajian membuat Bu Indah bergegas melerai.

“Ini udah malam, Bu, Ibu. Ngobrolnya dilanjut besok aja ya!” Bu Indah menepuk pundak Ibu Agam, lalu menggandeng Bu Warti yang letak rumahnya dekat.

“Besok kerja kali,” bantah Bu Warti.

“Kan kalau hari minggu bisa. Ibunya Agam kan libur dari pabrik,” ujar Bu Indah dengan santun. “Mari, Bu!”

Terpisahlah Ibu Agam dengan orang yang mengajak ramai. Mereka berjalan menuju rumahnya sendiri-sendiri. Memang setiap pengajian rutin selapanan, Ibu Agam selalu jadi bahan omongan terkait anak laki-lakinya. Mereka beropini sesuka hatinya tanpa mengetahui kebenaran, bahkan yang paling banyak terkait opini negatif. Mereka menilai Agam dari sisi negatif.

***

Gita, teman semasa kuliah membuat story whatsapp. Jari-jemari Agam tergerak untuk membalas story itu. Walaupun rasa sedih memenuhi relung hatinya. Lama tidak terdengar kabar, walaupun lewat story whatsapp, mendadak membuat story lamaran.

Kita memang tidak pernah ada kata putus. Tetapi kenanganku bersamamu tidak akan pernah terlupakan. Kita pernah berjanji untuk mengejar cita-cita masing-masing tanpa menganggu satu sama lain. Namun kenyataannya, kamu berpaling dariku, meminggalkanku tanpa berpamitan. 

Pesan tanpa ada kata yang disingkat itu terkirim. Agam menghela napas sejenak. Tidak lama kemudian pesan itu dibalas oleh Gita.

Gam, kamu tahukan bulekku tetanggamu, Bulek Warti. Gak mungkinkan aku mau nerusin hubungan kita. Aku teller di bank, kamu penggangguran. Ogah. Gak sebanding dengan calon suamiku yang PNS. Lupakan aku! Gak ada kenangan indah diantara kita. Jangan hubungi aku lagi!

Sakit tak berdarah dirasakan Agam. Ingin sekali ia menunjukkan gaji yang ia peroleh saat ini, tetapi ia tidak akan menuruti emosinya. Lagian buat apa orang seperti Gita dipertahankan, apalagi dirinya dibanding-bandingkan dengan seorang PNS. Bertekad untuk balas dendam dengan Gita dilakukan Agam, ia ingin membuktikan kepada semua orang, kalau dirinya bukan pengangguran seperti yang orang lihat saat ini.

***

Tiga bulan berjalan, Agam tidak hanya sebagai fotografer. Ia bekerja keras mengembangkan sayapnya sebagai videographer yang diupload di platform pengunggah video. Memang masalah pangan dan papan Agam masih menjadi tanggungan orang tuanya, tetapi ia tetap berusaha untuk menggapai impian terpendam selama ini. Terus bekerja keras siang malam tanpa mengenal lelah dilakukan laki-laki dua puluhan tahun awal ini. 

Tabungan hasil kerja kerasnya selama kurang lebih enam tahun ia pun menggunakan untuk beli sawah. Ditambah penghasilan dari videographer, walaupun hanya menyumbang sedikit, setidaknya ikut andil dalam berinvestasi jangka panjang.

Semua pengurusan yang berkaitan dengan hukum sudah beres. Termasuk serah terima sertifikat tanah, walaupun belum balik nama. Agam dan bapaknya mulai mengolah sawah untuk ditanami cabai dengan potensi penghasilan yang menjanjikan.

“Pak, sampeyan itu bisa beli sawah dari mana uangnya? Wong kerjanya aja cuman ngolah sawah sendiri habis untuk makan. Pakai uang ibunya Agam, gak mungkinlah! Gaji kuli pabrik itu berapa? Habis untuk hidup di masyarakat dan sekolah adiknya Agam,” celoteh Bu Warti.

Alhamdulillah ada rezeki,” jawab Agam sambil membuat gundukan tanah.

“Halah. Kamu itu pengangguran, bisa-biasanya ngomong gitu, Gam. Gita aja yang kerja di bank masih nyicil motor.”

“Bu Warti mau buruh kan! Jangan ngoceh di sini terus, Bu,” pinta Bapak Agam.

“Walah sombong banget sekarang. Beli sawah, biar kelihatan wah aja dibanggain.”

Bu Warti meninggalkan Agam dan bapaknya. Dua laki-laki itu kembali sibuk dengan pekerjaannya. 

“Gak usah dimasukin hati ya, Gam!” pinta Bapak Agam.

“Kalau kuping Agam gak kebal. Udah dua tahun lebih pasti tak bantah terus, Pak.”

***

Naura membanting tas sekolahnya di depan Agam yang sedang main handphone. 

“Kamu kenapa sih, Ra?” tanya Agam sambil menghentikan memainkan handphone.

“Aku kecewa dengan keluarga kita.” Naura mengeluarkan air mata, lali meninggalkan kakaknya dengan langkah kasar.

Tidak mendung, apalagi hujan. Tiba-tiba saja petir menyambar membuat Agam meletakkan handphone di atas meja ruang tamu, lalu menyusul adiknya yang telah masuk kamar. Kamar yang terkunci membuat Agam mengetuk pintu. Ketukan tidak mendapatkan jawaban membuat Agam mencari cara lain.

“Ra, buka pintunya!” pinta Agam sambil memainkan daun pintu.

“Gak mau.” Teriak Naura.

“Mas pengin tahu. Kamu marah sama siapa? Mas tadi dengar, kamu kecewa dengan keluarga. Apa hubungannya, padahal kamu baru pulang sekolah lho!”

Gadis yang duduk dibangku kelas VIII menengah pertama itu membuka pintu kamar. Ia menatap kakaknya dengan tajam. Naura terlihat marah, padahal Agam merasa tidak bersalah. 

“Kok kamu gitu, Ra?” tanya Agam sambil meletakkan kedua tangan di pundak adiknya.

“Beli sawah pakai uang darimana? Jawab, Mas!” desak Naura.

Agam merasa aneh dengan pertanyaan adiknya. Ya, memang saat ia ingin membeli sawah tidak melibatkan adiknya dalam berdiskusi. Ia merasa Naura belum cukup umur untuk diajak bicara hal serius dan berpikir panjang.

“Mas, apa keluarga kita punya pesugihan?” lanjut Naura dengan isakan tangis.

“Ra, kamu ngomong apa sih?” balas Agam sambil mengusap air mata adiknya. “Kenapa kamu bisa ngomong kayak gini?” 

“Pulang sekolah tadi, Naura gak sengaja dengar orang ngomong.”

Menggelengkan kepala dilakukan Agam. Ia tidak menyangka dengan dirinya investasi sawah malah dikira memiliki pesugihan. Sungguh fitnah yang membuat dada semakin sesak. Bahkan ingin meluapkan emosi kepada orang penyebar fitnah. Tetapi, Agam berusaha untuk sabar menghadapi fitnah. 

“Siapa yang ngomong, Ra?”

Naura mengalihkan pertanyaan kakaknya. “Naura tahu perekonomian keluarga, gak mungkin bisa beli sawah. Terus beli sawahnya pakai uang siapa?”

“Uangku,” jawab Agam singkat.

“Bukannya gaji Mas Agam cuman cukup untuk kuota. Mana mungkin punya tabungan. Gaji Mas Agam kan dibawah UMK.”

“Cuman itu yang kamu tahu, Ra. Alhamdulillah untuk saat ini sudah dikasih lebih.”

“Mas, jadi keluarga kita gak punya pesugihan kan!” 

Agam menggelengkan kepalanya. “Kamu mbok ya mikir aja! Emang keluarga kita pernah buat sesajen atau ritual apa kek. Gak kan! Jangan mudah kemakan omongan orang to? Mereka bilang gitu karena iri.”

***

Kejadian aneh dialami keluarga Agam. Suhu udara rumah meningkat, walaupun di luar hujan. Beberapa hari berturut-turut terjadilah hal yang sama.

“Harusnya adem. Kok aku panas ya?” ujar Ibu Agam sambil menyingkap gorden. Ia melihat hujan mengguyur begitu deras dari kaca jendela.

“Malam-malam mbok ya gak usah ngintip-ngintip!” perintah Bapak Agam sambil menyalakan kipas angin.

“Gak ngintip, Pak. Ini udara aneh aja. Wong di luar hujan ….”

Bapak Agam memotong perkataan istrinya. “ … ini kan baru peralihan musim. Wajar aja. Butuh penyesuaian cuaca."

Ibu Agam menutup kembali gorden yang sempat ia buka. Duduk di samping suaminya dilakukan wanita itu supaya mendapat kesegaran dari kipas. Sedikit angin segar dirasakan mereka, tetapi ketika menghindar dari kipas, panas kembali menguasai tubuh.

Agam berjalan menuju ke ruang tamu, ia melihat orang tuanya berada di depan kipas angin. 

“Gam, kamu mau ngapain?” tanya Ibu Agam.

“Mau kipasan. Tapi udah dipakai, ya udah.”

Ibu dan Bapak Agam saling melemparkan pandangan. Mereka pun kembali menatap ke arah putranya, mendadak muncullah Naura. 

“Kamu kenapa ke sini, Ra?” tanya Agam menoleh ke arah sang adik yang berdiri di sampingnya.

“Panas banget di kamar,” jawab Naura sambil mengibas-ibaskan tangannya di dekat wajah.

“Berarti yang kepanasan gak cuman kita tok, Pak. Itu nyatanya anak-anak pada keluar kamar.”

Empat orang itu pun berada di depan kipas angin sampai tengah malam. Hujan sudah mulai reda, walaupun gerimis masih terdengar sampai dalam rumah. Namun suhu udara belum juga mengalami penurunan. Malam itu mereka tidur bareng di ruang tamu. Saat semua terlelap dalam tidurnya, Ibu Agam terbangun karena mendengar suara wanita tertawa yang mengerikan. Suara itu dihiraukan oleh Ibu Agam, apalagi lewat tengah malam.

***

Keesokan harinya Ibu Agam membuka pintu. Ibu Agam dikagetkan dengan sambutan plastik belanja warna hitam yang terduduk pas di depan pintu. Ia pun menoleh ke dalam rumah.

“Ada apa, Bu?” tanya Agam yang mendatangi ibunya.

Ibu Agam tidak berbicara apa pun, ia hanya menunjukkan plastik warna hitam yang ada di depannya kepada sang putra. Agam pun menatap tajam plastik itu dengan kecurigaan, lalu mengarahkan pandangan ke ibunya.

“Mungkin belanjaan Ibu dibawa kucing,” ujar Agam.

“Ibu kan kemarin nyuruh kamu belanja. Wadahnya kemarin pakai apa?” 

“Ya, gak pakai plastik hitam. Kemarin itu putih dan ada sablonnya.”

“Emang isinya apa, to?” Ibu Agam jongkok dan membuka plastik yang terbungkus rapat.

Gubrak ….

Ibu Agam melemparkan plastik yang ia buka dan mengenai pohon jambu depan rumah. Melihat ibunya yang ketakutan membuat Agam bertanya, “Emang isinya apa, Bu? Kok Ibu sampai ketakutan kek gitu.”

“Lihat sendiri sana, Gam,” perintah Ibu Agam sambil berbirit-birit pergi meninggalkan anaknya.

Agam ditinggal sendirian di ambang pintu. Ibunya telah pergi memasuki rumah. Penasaran dengan isi plastik misterius membuat Agam melangkahkan kaki menuju benda yang dibuang ibunya. Sesampai di bawah pohon jambu Agam pun mendekati plastik dan menyentuhnya.

Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Agam.

Terbukalah plastik yang takuti ibunya. Saat melihat isinya tiba-tiba Agam ingin muntah. Warna merah di atas tisu itu terus terbayang-bayang dalam pikiran Agam. Agam pun menyingkirkan barang menjijikkan itu, lalu memasuki rumah dan cuci tangan. Tidak hanya cuci tangan saja, ia malah menambah dengan wudhu. Ia tidak akan menceritakan kejadian ini kepada Naura, takut adiknya ketakutan dan ia berharap ibunya juga tidak bercerita.

Ketika Naura sudah berangkat sekolah. Ibu Agam yang masih berada di meja makan bareng anak laki-laki dan suaminya berkata, “Apa ini ulah tadi malam ya!”

“Emang tadi malam ada apa, Bu?” tanya Bapak Agam.

“Gam, kamu tadi lihat kan!”

Agam hanya menganggukkan kepala. Ia berusaha membuang jauh-jauh bayang-bayang tentang barang yang ia lihat dengan mata telanjang. Tetapi, rasa penasaran Agam akan barang itu menggebu-gebu, ulah siapa sebenarnya.

“Katakan jujur pada kami, Bu! Tadi malam ada apa?” desak Agam.

Ibu Agam mengarahkan pandangan ke suami dan dilanjutkan ke putranya. “Ibu dengar ada orang yang ketawa-ketawa. Tapi, Ibu biarin soalnya udah lewat tengah malam.”

“Tapi Ibu gak buka pintu kan! Gak jawab kan! Gak ngintip kan!” tanya Agam untuk memastikan.

“Enggak, Gam. Ibu berdoa terus sampai suara ketawa yang menggerikan itu gak berbunyi lagi.”

Kejadian yang sama berulang kali dialami keluarga Agam. Saat Agam yang mendengar, ia memberanikan diri untuk mengintip lewat kaca jendela untuk mengetahui siapa yang berani tertawa di halaman rumahnya malam hari. Ia tidak melihat apa pun, ketika gorden jendela tertutup ketawa itu terdengar lagi, intipan kembali dilakukan, tetapi hasilnya sama. Tidak bisa berbuat apa-apa selain memohon perlindungan dari-Nya yang dilakukan Agam.

***

Kejadian berulang kali menganggu ketenangan keluarga membuat Agam dan bapaknya ingin mencari tahu siapa pelakunya. Ia sengaja tidak tertidur saat menjelang tengah malam. Kalimat dzikir selalu ia ucapkan. Hal serupa terjadi lagi, ia pun mengintip lewat jendela. Memang malam ini belum ditemukan siapa pelaku peneroran mistis, tetapi ia melihat sekelebat bayangan yang lewat depan rumahnya. Bayangan yang hanya ia tangkap dalam sekejap dan membuat bulu kuduk Agam berdiri.

Tidak hanya itu saja, Bapak Agam sampai keluar rumah untuk memastikan manusia atau makhluk tidak kasat mata. Halaman rumah tuntas ia kelilingi dan tidak menemukan apa pun selain rasa merinding. Saat hendak memasuki rumah kembali seperti ada orang yang terus membuntutinya, tetapi ketika ditengok tidak ada ada pun. Merinding semakin dirasakan ketika melihat sekelebat rambut panjang di depannya membuat laki-laki paruh baya itu bergegas masuk ke dalam rumah.

***

Sepulang menunaikan ibadah maghrib dari masjid, Bapak Agam bercerita dengan tetangganya sambil jalan menuju rumah.

“Ealah, Lek. Lagi dikasih cobaan.”

“Cobaan apa to pakne Agam?” tanya Lek Kliwon penasaran.

“Rumahku kek kena terror.”

“Teror gimana maksude?”

Bapaknya Agam menceritakan kejadian mistis itu kepada laki-laki yang disapa Lek Kliwon dari ketawa mengerikan tengah malam, kiriman barang menjijikkan, rumah berhawa panas, tiba-tiba pusing hilang datang dan sering melihat kelebatan.

“Wah. Bener berarti, pakne Agam gak beres.” Bu Warti tiba-tiba nimbrung.

Dua orang yang tengah jalan lewat depan rumah Bu Warti langsung menghentikan jalannya. Dua laki-laki itu mengarahkan pandangan ke wanita yang duduk di kursi teras rumah. Wanita itu terlihat santai dengan menikmati gorengan dan teh celup dalam cangkir.

“Gak bener piye, Bu?” Bapak Agam menanggapi perkataan Bu Warti.

“Cari rezekimu itu gak halal. Makanya rumahmu ada demite. Lha kamu cari duwit minta tolong demit.” Bu Warti menyeruput teh. “Mana mungkin kamu bisa beli sawah, kalau cari duwitnya halal. Gaji bojomu berapa? Lagian anakmu pengangguran kelas atas.”

Astaghfirullah. Mbok ya kalau ngomong dipikir dulu, Bu!” sahut Lek Kliwon.

“Saya itu juga mikir, Lek. Emang hartane pakne Agam gak masuk nalar kok. Rumahnya gak nyaman, wong punya pesugihan.”

Bapak Agam mengelus dada sambil menggelengkan kepala. Ingin rasanya membungkam mulut Bu Warti dengan plester, tetapi Bapak Agam tidak tega memperlakukan wanita semena-mena, walaupun hatinya terisi-iris. Tidak mau hatinya terus tersakiti ketika menanggapi Bu Warti, Bapak Agam memberi kode Lek Kliwon untuk melanjutkan langkahnya. Mereka pun melanjutkan jalannya untuk pulang ke rumah masing-masing.

***

Terbangun dari ranjang dilakukan Agam. Ia mengeliarkan pandangan ke seluruh sudut kamar, tidak ada seorang pun yang ia tangkap dari bola matanya. Padahal ia terbangun karena merasa ada yang membangunkan. Mendadak pandangan Agam tertuju pada jam yang terletak di atas meja. Jam tiga lebih sepuluh menit. Mata yang masih terasa berat untuk dibuka membuat Agam kembali merebahkan tubuh dan perlahan memejamkan mata.

Mata Agam yang sudah terpejam terbuka lagi ketika telinganya mendengar suara wanita yang sedang tertawa. Suara itu tidak semakin hilang, tetapi semakin terdengar keras. Kembali terbangun dan meninggalkan ranjang dilakukan Agam.

“Ini bukan suara Naura,” kata Agam lirih.

Melangkahkan kaki meninggalkan kamar dilakukan Agam untuk mencari suara wanita tertawa mengerikan itu. Suara yang bersumber dari halaman rumah membuat Agam mendekati jendela. Dengan was-was, Agam menyibakkan gorden. Pemandangan mengerikan membuat ia kembali menutup gorden jendela. 

Dengan rasa ketakutan, Agam memberanikan diri membuka gorden jendela lagi. Pemandangan yang sama masih ia lihat. Wanita berjalan wira-wiri di halaman dengan baju putih berdarah. Ketika ia berkedip pemandangan yang membuat bulu kuduknya berdiri itu menghilang.

Tidak mau terus dihantui dengan rasa takut membuat Agam pergi mengambil air wudu dan melakukan ibadah sunah. Kalimat dzikir terus terucap dari mulutnya, suara tertawa mengerikan itu perlahan-lahan menghilang, walaupun bayang-bayang menakutkan itu masih menguasai pikirannya.

***

Semua anggota keluarga Agam berkumpul di ruang makan. Saat hendak menyantap makanan tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Ketukan tanpa suara membuat semua anggota keluarga Agam hanya saling melemparkan pandangan. 

“Bune Agam!”

Setelah terdengar panggilan, Ibu Agam segera meninggalkan meja makan. Pintu ia buka didapatinya Bu Warti dengan membawa nasi kotak berukuran 20x20 centimeter. 

“Bu, ini syukurannya anakku yang sudah jadi polwan,” ujar Bu Warti sambil menyerahkan nasi kotak.

Alhamdulillah kalau gitu, Bu. Ikut senang.” Ibu Agam menerima nasi kotak yang diulurkan wanita di depannya.

“Iya, Bu. Saya pulang dulu ya?”

Monggo, Bu.”

Bu Warti bergegas meninggalkan halaman rumah keluarga Agam. Ibu Agam pun kembali menutup pintu, lalu berjalan menuju ruang makan. Makanan dari Bu Warti langsung dibuka Naura. Saat ingin melahap ayam goreng pemberian Bu Warti, Agam mencegah Naura dengan menyahut sendok yang hendak masuk mulut.

“Kenapa, Mas?” tanya Naura.

“Ada belatungnya, Ra,” ujar Agam sambil mengamati makanan yang ada di sendok. 

“Mana, Mas? Gak ada.” Naura ikut mengamati.

“Terserahlah, Ra. Pokoknya aku gak mau tanggung kalau terjadi apa-apa.”

“Coba dech, Pak, Bu. Kalian lihat gak! Kok kata Mas Agam ada belatungnya.” Naura menyahut sendok dari tangan kakaknya, lalu diberikan pada ibunya.

Ibu dan Bapak Agam tidak melihat apa pun. Tetapi, ketika Ibu Agam mencoba menyantap langsung memuntahkan ayam goreng yang sudah ia kunyah. Ayam yang sempat dimakan Ibu Agam terasa hambar dengan tekstur lengket dan mengeluarkan bau busuk.

***

Jepretan indah dan video sudah didapatkan Agam. Ia pun mulai meninggalkan pantai yang membawa kisah senja yang begitu romantis, walaupun tanpa kekasih. Romantisme bersama ciptaan-Nya walaupun tak bernyawa. Ban sepeda motor Agam terus menggelinding di atas jalan beraspal. Rasa bahagia membuat perjalanan terlalu singkat, tak terasa kendaraan Agam sudah berada di depan rumah. Dengan senyum sumringah memasuki rumah dengan membawa oleh-oleh tak terlihat, tetapi nyata. 

Senyum merekah dari bibir ibunya membuat semangat Agam menggebu-ngebu untuk menukar jepretan dan video menjadi dolar, walaupun tak pernah memegang dolar kertas ataupun koin. Tanpa ragu Agam bergegas menuju ruang kerja. Hawa ruang kerja terasa aneh dengan bau busuk menyengat membuat Agam mengendus-endus disetiap sudut. Mengobrak-abrikkan benda-benda untuk memastikan tidak ada bangkai hewan terselip disetiap sudut.

“Gam, sudah maghrib?” tanya Ibu Agam yang berdiri di ambang pintu.

“Udah, Bu. Tadi mampir di masjid pinggir jalan,” jawab Agam sambil celingukan di kolong lemari.

“Gam, ada hewan mati kah? Kok baunya kek gini.” Ibu Agam menutup hidung dengan daster bagian atas.

Agam berdiri, lalu mengarahkan pandangan ke ibunya. “Gak tahu, Bu. Ini udah aku cari gak ada. Ibu lihatkan! Ini ruangan jadi berantakan.”

“Aawwwwwwww ….”

Agam dan ibunya saling melemparkan pandangan ketika mendengar suara jeritan.

“Naura, Bu.” Agam bergegas lari keluar dari ruangan.

Ibu Agam pun mengikuti anaknya berlari. Mereka mendapati Naura yang berada di ruang tamu yang menutup mata dengan kedua tangannya. 

Agam memeluk adiknya sambil bertanya dengan suara halus. “Ada apa, Ra?”

Naura masih kelihatan ketakutan membuat Agam memapah adiknya menuju kursi. Ya, Naura duduk diapit kakak dan ibunya dengan kepala menyandar ke Ibu Agam. Agam merasa ada yang tidak beres di rumahnya, ia pun mengomat-ngamitkan mulut untuk meminta pertolongan dari-Nya.

Naura sudah terlihat tenang membuat Agam bertanya, “Kamu gak papa kan, Ra?”

“Aku kira yang ngetuk pintu tadi Bapak. Untung Naura lihat dulu dari jendela. Naura lihat orang berambut panjang. Naura takut.”

Agam pun mengangukkan kepala. “Emang Bapak ke mana?”

“Bapakmu ke rumah Ustadz Sholeh.”

Tookkk … ttookkkkkkk … tttoooookkkkkk ….

“Assalamualaikum, Bu, Gam, Ra!” 

Agam yakin ini benar-benar suara bapaknya. Ia berjalan dan membuka pintu. Di ambang pintu, Agam melihat bapaknya dan Ustadz Sholeh. Dua laki-laki langsung masuk ke dalam ruang tamu. Ya, semua keluarga Agam berkumpul.

“Gimana keadaan rumah kita, Tadz?” tanya Ibu Agam.

Mendadak Agam yang terdiam langsung berkata, “Bu Warti.”

“Kenapa dengan Bu Warti, Gam?” tanya Ibu Agam.

“Ehm. Ini semua ulah Bu Warti, Pak, Bu,” tegas Agam.

“Tenang, tenang! Kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan. Kalian pasti sudah ngerti, wong nandur bakal ngunduh.” Ustadz Sholeh mengarahkan pandangan ke arah pintu. “Pokoknya kalian banyakin berdoa meminta pertolongan dari Allah. Insyaallah aman. Itu aja pesan saya.”

Pelaku teror sudah ditemukan. Lega sudah rasanya, tetapi hati yang tersakiti tidak akan bisa pulih seperti semula. Agam tidak menyangka sikap iri wanita itu. Pengungkapan iri tidak hanya dilontarkan lewat mulut saja, tetapi menusuk lewat belakang. 

***

Tiga bulan kemudian ….

“Gam, selamat ya!” 

Suara itu membuat Agam yang sedang meninjau bangunan calon studio foto miliknya langsung menoleh ke samping. Tampak Gita dengan oufit kekinian berjejer di sampingnya.

“Gam, balikan yuk!” Gita tiba-tiba melontarkan keinginannya.

“Aku bukan PNS, Git. Aku hanya pengangguran.” Agam tersenyum kecut. “Dulu aku kau buang, sekarang kamu mau ambil lagi! Gak pantas sampah dipungut kembali. Emang calonmu ke mana?”

“Dia ninggalin aku. Aku gak jadi nikah sama dia, dia nikah sama orang lain.” Gita menampakkan kesedihannya.

“Bulek sama ponakannya sama aja. Sama-sama membuat sakit,” tegas Agam sambil menatap tajam Gita. “Kita gak akan bisa seperti dulu lagi.” 

Agam bergegas meninggalkan Gita. Pergi dengan pengendarai motor dilakukan Agam. Saat melintas di depan rumah Bu Warti, ia mendengar suara jeritan bagaikan orang ketakutan. Ia sering sekali mendengar suara itu setelah rumahnya didatangi Ustadz Sholeh dan menambah amalan supaya terhindar dari makhluk halus. Entah siang atau malam jeritan itu sering berkumandang. Agam tidak mempermasalahkan jeritan itu selama tidak menganggu dirinya dan keluarganya.

***

~Tamat~

Rekomendasi
Lihat lagi